Friday, July 15, 2011

Boy Meets Girl


Judul : Boy Meets Girl (terjemahan)
Penulis : Joshua Harris
Penerbit : LLB

Siap Menjalani “Percintaan Dengan Tujuan”?

Lelah dengan hubungan yang berpusat pada diri sendiri dan selalu berujung kekecewaan? Inilah saatnya memikirkan kembali apa itu percintaan? Membangun hubungan kasih dan komitmen bukan berarti membuang semua harapan, integritas atau kerinduan hatimu.

Dalam Boy Meets Girl, Joshua Harris – cowok yang pernah berhenti berkencan – menekankan pentingnya masa menjalin hubungan lawan jenis. Ini terdengar kuno, tapi masa kenal-mengenal sangat diperlukan dalam hubungan lawan jenis pada masa kini yang serba canggih. Ini percintaan yang dituntun oleh hikmat, dipedulikan oleh komunitas, dan dipandu Firman Tuhan.

Berisi kisah-kisah inspiratif tentang cowok dan cewek yang menemukan kembali pentingnya saling mengenal, buku Boy Meets Girl begitu jujur, romantis, dan menyegarkan, lagipula alkitabiah. Tempatkan Tuhan di pusat hubunganmu selagi kamu belajar:
- Menetapkan arah yang jelas dalam percintaan.
- Menjadi dekat tanpa berkompromi.
- Menemukan dukungan dari komunitas yang peduli.
- Menangani masalah dosa masa lalu.
- Mengambil keputusan yang benar tentang masa depanmu.

Termasuk 8 ide dari Joshua Harris untuk mengembangkan dan memadu hubungan lawan jenis berupa membangun percakapan dalam hubungan lawan jenis.

Improving Your Serve


Judul:Improving Your Serve (Terjemahan)
Penulis: Charles Swindoll
Penerbit: Pionir Jaya


Saya
Milik Saya
Diri Saya Sendiri

Temuilah monumen diri sendiri ini. Kebanyakan orang menghabiskan sebagian besar waktu dalam hidup mereka dengan membangun monumen ini.

Buku ini diperuntukkan bagi mereka yang siap untuk menyerang monumen tersebut. Bersedia untuk sepenuhnya mencurahkan perhatian untuk menjadi seseorang yang berbeda.

Bukan orang yang selalu mau mendapatkan...tetapi seorang pemberi.
Bukan orang yang selalu menyimpan dendam...tetapi seorang pemaaf.
Bukan orang yang selalu mengingat-ingat kesalahan, tetapi seorang yang dapat melupakan.
Bukan seorang bintang...tetapi seorang pelayan.

Jikalau Anda bersedia untuk menginvestasikan lebih banyak lagi...jikalau Anda sungguh-sungguh merindukan Tuhan yang lebih dari seharga tiga dolar saja, maka inilah saatnya Anda memulai suatu perjalanan yang akan mengubah hidup Anda selamanya.

Buku edisi khusus ini menyampaikan salah satu pesan yang paling penting bagi zaman ini. Karya Charles Swindoll yang bertemakan tentang pelayanan kepada orang lain ini, tidak habis-habisnya telah memberikan inspirasi dan kekuatan bagi beratus-ratus ribu orang Kristen. Alamilah sendiri seni menjalani hidup yagn tidak mementingkan diri sendiri sementara Anda belajar untuk “meningkatkan pelayanan Anda.”

Margin


Judul Buku : Margin
Penulis : Richard Swenson
Penerbit : Pionir Jaya


Kelebihan beban contohnya tidak memiliki waktu untuk me-nyelesaikan buku tentang stres yang sedang Anda baca. Memiliki margin contohnya memiliki waktu untuk membacanya dua kali. Kelebihan beban contohnya penat. Memiliki margin contohnya berenergi. Kelebihan beban contohnya tinta merah. Memiliki margin contohnya tinta hitam. Kelebihan beban contohnya terburu-buru. Memiliki margin contohnya tenang. Kelebihan beban contohnya cemas. Memiliki margin contohnya merasa aman. Kelebihan beban adalah penyakit masa kini. Margin adalah obatnya.

Margin adalah ruang di antara beban kita dan batas-batas yang kita miliki. Margin merupakan sesuatu yang dicadangkan bagi situasi-situasi tak terduga atau yang mungkin terjadi.

Dalam Margin, Dr. Richard Swenson memberikan resep untuk melawan bahaya dari kehidupan yang kelebihan beban. Berfokus pada margin dalam empat area — energi emosi, energi fisik, waktu, dan keuangan — ia menyajikan gambaran tentang kesehatan secara menyeluruh dengan unsur rasa puas, kesederhanaan, keseimbangan, dan istirahat.

Jika Anda merindukan kelegaan dari rasa sakit dan tekanan akibat kelebihan beban, ambillah satu dosis kekal Margin. Maka manfaat dari kesehatan yang baik, stabilitas keuangan, hubungan-hubungan yang utuh, dan kesiapsediaan bagi maksud-maksud Sang Pencipta akan mengikuti Anda sepanjang hari-hari Anda.

Friday, September 17, 2010

Selamat Pagi, Tuhan!



Judul buku: Selamat Pagi Tuhan
Penulis : Andar Ismail
Penerbit : BPK Gunung Mulia
Tebal buku: 110 halaman

Apa yang biasanya kita lakukan untuk mengawali hari? Anda tentu berkata “Seharusnya kita berdoa”. Ya, itu benar. Kita seharusnya mengawali hari kita dengan berdoa. Menurut Andar ada dua fungsi doa pagi; yang pertama adalah pencetus rasa girang pagi hari, yang kedua doa pagi ibarat laporan bahwa kita siap untuk mengerjakan kehendak Tuhan.

Mengapa sih kita perlu berdoa? Awalnya orang-orang berdoa karena perasaan gentar dan gemar. Gentar karena sesungguhnya yang dihadapi adalah Allah yang luar biasa jika dibandingkan dengan sosok manusia yang kecil dan tidak berdaya, gemar karena manusia terpesona atas karya-karya Allah.

Dalam buku ini diilustrasikan bahwa kita sering kali merasa canggung dalam berdoa karena tidak tahu mau bilang apa, padahal jika kita disuruh menulis surat kepada pacar kita mungkin panjangnya bisa berlembar-lembar. Hal ini bisa terjadi karena renggangnya hubungan kita dengan Tuhan. Doa memupuk kedekatan kita dengan Tuhan. Seperti orangtua dengan anaknya yang sering berbicara tentang apa saja, demikian jugalah sebaiknya kita dengan Tuhan.

Doa pada dasarnya ada dua macam, yaitu doa yang bersifat emosional, dan doa yang bersifat rasional. Dalam doa yang bersifat emosional yang terjadi adalah merasa yakin bahwa terkabulnya doa tergantung dari seberapa gigih berdoa, sementara dalam doa yang bersifat rasional, karena kesadaran bahwa doa tidak selalu terkabul, sehingga dalam berdoa benar-benar berpasrah dan menyerahkan sepenuhnya pada wewenang Allah. Hayoo…doa kita sering bersifat yang mana nihh? Dalam bukunya ini juga, Andar banyak sekali memperingatkan tentang sikap kita ketika berdoa. Doa seringkali dianggap sebagai jalan terakhir dalam menghadapai persoalan. Dalam doa juga sering kita mengimani tapi tidak melakukan. Misalnya nih waktu doa makan, sadar tidak kalau sebenarnya tujuan berdoa sebelum makan selain untuk mengucap syukur adalah untuk mengingatkan bahwa kita sebaiknya makan dengan sewajarnya dan juga harus prihatin terhadap keadaan orang lain yang belum bisa menikmati segala hal yang kita bisa nikmati sekarang.

Berhati-hati juga dalam berdoa, jangan sampai doa kita munafik. Nyatakanlah dirimu dalam doa sebagaimana adanya, karena Tuhan sesungguhnya Maha Tahu dan Maha Mengerti keadaan kita. Dia juga tahu apa yang kita butuhkan, bahkan sebelum kita minta. Kita juga sebaiknya tidak hanya mendoakan diri kita sendiri. Sebagai bentuk kepedulian kita terhadap keadaan orang lain, kita bisa mendoakannya dalam doa syafaat.
Doa sebenarnya bukan hal yang gampang dipahami, dan tidak ada manusia yang benar-benar mengerti tentang doa. Sehingga dalam doa pun sebaiknya kita meminta Tuhan untuk mengajar kita berdoa.

Friday, May 28, 2010

Waktu dan Hikmat


Judul Buku: Waktu dan Hikmat
Penulis: Stephen Tong
”Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana”(Mazmur 90:12). kita tentu sudah sering mendengar ayat ini. hanya saja sudah sejauh mana kita berusaha untuk mempergunakan waktu kita dengan baik.
Stephen Tong di dalam buku ini mengajak untuk memandang waktu dan kesempatan kita dengan lebih baik lagi. kita bisa memandang waktu berbeda-beda dan hal itu juga yang menentukan bagaimana kita mempergunakan waktu yang ada. Ada tiga cara memandang waktu:waktu adalah hidup, waktu adalah catatan, dan waktu adalah kesempatan.
Selain itu, di dalam buku ini juga dibukakan bagaimana kita bisa menggunakan waktu dengan berhikmat, sehingga pada akhirnya waktu kita, digunakan dengan baik dan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang seturut kehendak Tuhan.

Beritakan Injil dengan Kasih


Judul Buku:Beritakan Injil dengan Kasih
Penulis:Howard G Hendricks
Kasih merupakan kekuatan positif yang terbesar. Dan manusia biasanya memberikan respons terhadap pernyataan kasih. Ketika kita berbicara mengenai Injil, sesungguhnya kita sedang menawarkan anugerah kepada orang-orang. Hal ini merupakan bukti nyata bahwa kita mengasihi orang tersebut.
Dalam memberitakan Injil itu, perlu pernyataan kasih yang lebih dalam lagi yang harus kita lakukan agar pada akhirnya Injil yang diterima itu bisa dimengerti pada awalnya, dan kemudian dengan kuasa Tuhan, Injil bisa tertanam dan berbuah dalam diri orang-orang. Pada awalnya komunikasi yang baik merupakan cara awal Injil dapat diterima dan dimengerti. Howard G Hendricks dalam bukunya menyatakan bahwa, kita tidak akan bisa berkomunikasi dengan orang lain, sampai ketika kita mengasihinya, dan semakin kita mengasihi, semakin dalam keinginan kita untuk berkomunikasi dengannya. Komunikasi yang nyata, ada baik dalam kata-kata dan perbuatan, dan sekali lagi kita harus menunjukkan kasih dalam berkata-kata dan berbuat. Sering kali kita mempunyai kata-kata yang tepat tentang Injil, namun perbuatan kita tidak baik dan malahan tidak sesuai dengan Injil yang kita bicarakan itu. Kita juga harus menyentuh kebutuhan-kebutuhan orang-orang yang kepada mereka Injil kita beritakan, mendorong mereka untuk mengetahui lebih dalam, dan melibatkan pribadi kita dalam proses pemberitaan Injil.

I, Isaac Take Thee Rebekah


Judul buku : I, Isaac Take Thee Rebekah

Penulis : Ravi Zacharias

Buku ini berisikan mengenai pergumulan pria dan wanita yang sedang menjalin hubungan, Ravi Zacharias banyak mengambil pelajaran mengenai proses pernikahan antara Ishak dan Ribka(kitab kejadian), menekankan bahwa semuanya dapat terjadi atas hati yang tunduk terhadap kedaulatan Allah.
Pada awal buku ini, Ravi Zacharias menyatakan bahwa hubungan tersebut harus dibangun berdasarkan komitmen/perjanjian antara pasangan tersebut, dan bukan hanya berdasarkan perasaan karena perasaan dapat berubah-ubah. Kemudian Ravi juga menjelaskan mengenai kebutuhan manusia akan pasangan hidup yang sepadan untuk menggenap rencana Tuhan atas hidup manusia tersebut (yang diambil dari awal penciptaan hawa), Ravi juga menjelaskan mengenai proses menjalani hubungan yang menuntut adanya kekudusan, dan disini dibahas dengan detail bagaimana pasangan harusnya menjauhkan diri dari pencobaan (seperti: pacaran bukan ditempat yang tertutup, dll) namun Ravi juga menjelaskan bahwa kekudusan tidak hanya dijaga dari luar namun di dalam hati juga.
Pada bagian akhir buku ini, Ravi membahas bagaimana criteria wanita atupun pria yang tepat. (seingatku) pria/ wanita yang tepat adalah pria dan wanita yang mimilki kehidupan doa dan hidup yang seturut dengan firman Tuhan. Ravi menemukan criteria pria dan wanita ini berdasarkan Ishak dan Ribka juga.
Cuma segini yang bisa aku ingat dan tuliskan, berharap teman-teman tertarik untuk membacanya. Bukan hanya untuk teman-teman yang “belum berpasangan”, namun juga teman-teman yang “sudah memiliki pasangan”. Hehehee.. tidak pernah berhenti untuk belajar kan^^